Minggu, 13 Maret 2016

Hatiku Merayu Rindu

Hatiku Merayu Rindu

Namanya mirip dengan pahlawan emansipasi wanita dari Jepara. Meski hidup berbeda zaman, tapi keduanya memiliki kesamaan. Sama-sama lahir di Jawa Tengah.

Menamatkan pendidikan hingga Sekolah Menengah Ekonomi Atas di Klaten lalu pergi merantau mengadu nasib di Bekasi. Menjadi buruh di kawasan EJIP dia jalani lebih dari lima tahun.

#Cantik...

Jika cantik maksimal adalah 10, maka saya memberikan nilai 8,5 untuk kecantikannya. Memang tidak terlalu putih, tidak terlalu kurus, tidak terlalu tinggi. Tapi kemampuan pada pemilihan dan padu padan menjadikannya lebih berkesan.

Sekali melihatnya (walau dia tertunduk), aku langsung jatuh... Sungguh pribadi unik yang menarik.

#Idealis...

Dia pribadi yang idealis. Sudah bekerja di sebuah perusahaan Jepang yang gajinya cukup untuk biaya hidup, malah keluar dan memilih jadi guru TKIT dengan gaji yang (rahasia). Alasannya simpel. Untuk menjadi pribadi yang lebih baik dan beramal lebih baik.

Benar saja, dengan uang seadanya itu di melanjutkan kuliah. Baginya itu lebih menentramkan.

#Lincah...
Kata lincah aku pilih sebagai gambaran mobilitasnya yang buanyak. Sudah sibuk jadi guru di sekolah, masih mengisi TPA di rumah ditambah membina kelompok pengajian karyawati. Sabtu minggu hampir penuh dengan kegiatan.

#Penyayang dan supel...
Sempat mengasuh keponakan yang ditinggal merantau oleh orang tuanya, dari disapih hingga lulus SMP. Anak-anak muridnya pecah tangisnya kala dia pamit mau mengundurkan diri dari guru. Temannya banyak, baik teman kerja, teman guru ataupun teman pengajian.

#Sholehah...

Dia sudah memakai jilbab sejak usia SMP. Padahal waktu itu hanya dia seorang diri di sekolahnya. Kuat dalam memegang prinsip, terutama menyangkut agama. Semangat keibuannya sangat nampak saat merawat anak muridnya. Anaknya nampak Soleh dan Cerdas. (kayak motto sekolah islam).

...........................

Tapi, Sayang sungguh disayang. Wanita cantik, idealis, penyayang dan sholehah itu telah menikah.

Sungguh beruntung laki-laki yang mendapatkan cintanya. Dan laki-laki yang beruntung itu adalah Aku, Budi Purwanto.

Sabtu, 12 Maret 2016

Nuansa Kehidupan

Terhempas aku dalam kehampaan
Tenggelam dalam genangan lara
Kucoba meraba dan menjangkau apa yang bisa terpegang olehku
Aku ingin bangkit Ya Allah

Dan aku terus mencoba menguatkan ragaku
Agar bisa ku berdiri tegak
Dan mencoba melangkah 
Walau terseok dan tertatih

Berjuang aku di jalanMu Ya Rabb
Berjuang menggali potensi yang telah Kau anugerahkan
Dan aku yakin potensi itu ada
Dan keberadaannya tertutup lapisan-lapisan tebal dan dalam

Dan aku harus menembus lapisan-lapisan itu
Walau kadang letih, merintih, perih
Tapi semangat dan harapan ikut bersilih
Dan aku harus bisa menentukan mana yang harus dipilih

Jiwaku terus meradang atau jiwaku akan tenteram?
Wahai Yang Maha Indah
Terbuai aku dalam kasihMu
Terpesona aku dalam ketenangan pikiran, perasaan ketika memujaMu

Dan semakin yakin bahwa semua yang Kau cipta punya potensi
Semua manusia sama-sama sempurna dalam   ketidaksempurnaannya

Sadarilah

SADARILAH

Bumi semakin panas. Asap pabrik, asap kendaraan, asap kebakaran, asap rokok,  asap sampah,  menambah besar lubang ozon. Musim panas menjadi lebih panjang.

Bekasi, menjadi kota panas saat ini.
Banyaknya kawasan industri dan tempat pembuangan akhir (TPA) dari sampah, ada di Bekasi. Radius 3km dari TPA, sdh tdk layak huni.
Dan kita masyarakat bekasi menjadi penyumbang gunungan  sampah itu.
IRONIS memang.

Kita benci sampah yang menumpuk.
Tapi kita terus menambah sampah terus menerus. Kita semua. Bayangkan saja kalau setiap rumah  0,7 - 1 kg sampah, berapa kilo se RT? se RW ? se Kecamatan  ?  se se Kabupaten  ? Membukit, bahkan menggunung.

Ada seorang ibu mengeluhkan sampah depan rumahnya yg telat diangkut oleh petugas kebersihan, karena pemandangan yang tidak sedap, bau dan belatung yang keluar dari tumpukan sampahnya.
Dia tidak menyadari bahwa yang "nyampah" adalah dirinya sendiri.

Coba kita perhatikan sampah yang ada di rumah kita.
Ada sampah kering dan basah.
Ada sampah plastik dan kertas.
Ada sampah makanan dan minuman.

Bila kita cermat memisahkan sampah, dan meletakkan ditempat yang berbeda, tentu kita tak akan jadi penyumbang sampah yang banyak. Setidaknya,  kenali 3 Jenis sampah dan manfàatnya.
1. Sampah untuk kompos
     Sampah yang tidak menimbulkan belatung dan tidak merusak mesin pencacah.
Contoh : daun, kulit buah dan sayur, buah busuk.
2. Sampah bernilai ekonomis
    Sampah yang bisa dijual.
Contoh : kertas, kardus, plastik, elektronik
3. Sampah TPA
      Sampah yang tidak dapat terurai, dapat menimbulkan belatung dan merusak mesin pencacah
Contoh : makanan basi, pembalut, diapers, biji dan kulit buah keras

Jika sampah sudah dipilah sedemikian rupa dan ada manfaatnya,  betapa banyak berkurangnya tumpukan sampah.
Memulai dari dalam rumah memilah sampah., agar lingkungan  bersih dan hijau.

Ayo mulai dari diri sendiri, keluarga dan lingkungan.
Sesungguhnya Allah itu indah, dan menyukai keindahan.
Ayo lebih baik. 

#Catatan musim panas lalu

Saat Jodoh Tak Kunjung Tiba

Sudah satu minggu ini, air pam dirumahku tak mengalir.
Malam itu, aku beranikan diri mengetuk tetangga ujung gang.
Mumpung suaminya masih diluar kota.
Penghuninya adalah teman majelis tafsir di masjid.

Malam itu, awalnya hanya sekedar numpang cuci muka dan ambil air wudlu.
Berlanjutlah aku ikut sholat.
Anak-anak beliau juga sudah lelap tertidur semua, mungkin kecapekaan setelah hujan-hujanan tadi sore.

Selesai sholat, beliau mengajakku berbincang sebentar.
Belum lama obrolan berselang, akupun tak mampu menahan air mataku, rasanya sudah tak mampu lagi ditahan.
Aku tarik tangan dan peluk erat badannya,
dan aku menangis, menangis dan menangis.

Beliau sengaja tak menghentikan tangisku dan seolah berharap bebanku hilang.
Dan akupun berbisik padanya, "Mbak apa Allah ga sayang padaku, kenapa Allah belum mendatangkan jodoh untukku?".
Sontak berubah wajah beliau, seolah bingung atas pertanyaanku.

Usiaku sudah lebih dari kepala empat, usia yang melebihi kata cukup untuk menikah.
Apalagi kalo takarannya orang kampung seperti kami.
Perempuan seumuran kami minimal sudah punya anak dua bahkan tiga.

Desakan orang tua ku untuk segera menikah membuat tambah perih rasa yang ku alami.
Ditambah tuduhan tetangga bahwa aku penyebab terbaring ibuku di rumah sakit.

Aku merasa wajahkupun tak jelek, pekerjaan mapan juga sudah Allah karuniakan padaku, dan aku merasakan sudah siap menikah. 
Setiap ada pelatihan-pelatihan pra nikah, aku ga pernah absen.
Mungkin modal yang sudah cukup untuk menikah.

Tapi entah, ada sekenario apa yang Allah berikan kepadaku. 
Ku sampaikan juga pada beliau,  "Mbak, aku pun siap menjadi yang kedua? Aku hanya berharap siapapun ia, seseorang itu akan mampu membuatku berada dalam keistimewaan di jalanNya?".

Tak ada kata yang terucap dari beliau.
Beliau hanya menambah erat pelukan dan mengusap punggungku.

Beberapa menit kemudian, beliau katakan bahwa Allah sedang menyiapkan jodoh terbaik bagiku dan meyakinkan bahwa Allah akan datangkan seorang pria yang akan menemani, menuntun dan memimpinku dalam meraih keridloan dan kedudukan di sampingNya.

Hanya butuh waktu yang tepat saja.
Beliau pun memintaku untuk bersabar, bersabar sampai kesabaran itu membuatku semakin mendekat pada cintaNya.

Semoga kesabaran berbuah ketaatan.
Allah sudah mempersiapkan bagiku pasangan yang tepat, entah didunia ini maupun di akherat nanti.
Seberapa bijak kita memahami dan menerima manis dan getirnya hidup ini, akan menentukan seberapa bobot keimanan kita padaNya.

Kesenduan ini berakhir, saat smartphone di atas meja berbunyi, mungkin suaminya menelpon.

Terima kasih mbak, tak kan ku lepaskan ukhuwah ini, ukhuwah yang membuatku semakin mendekat pada keridloanNya.

Cikarang, 12 Maret 2016
#fatina

Jumat, 11 Maret 2016

Sampah yang Bernilai Ekonomis

Melayani ibu hamil dan membantu persalinan adalah hal lazim yang ditangani seorang dokter kandungan. Namun ada yang unik pada Emy Tri Dianasari . Beliau dokter spesialis  kandungan yang tak malu-malu berkecimpung di dunia sampah.

"Saya sedang berusaha untuk mengedukasi ibu- ibu rumah tangga memilah sampah agar bisa bernilai ekonomis" ujar dokter dengan 2 orang putra dan 2 orang putri ini.

Sampah organik, ketika sdh masuk tanah, maka selesai. Dia akan terurai dengan sendirinya. Sampah non organik membutuhkan proses agar dpt terurai bahkan  ada yang jutaan tahun.Jika seorang ibu rumah tangga bisa memilah sampah, dan memanfaatkannya, maka urusan sampah bisa selesai di tataran rumah tangga. Demikian lanjut dokter yang membuka prakteknya di Perum Graha Asri ketika memberi sambutan pada acara pembentukan relawan Bank Sampah bulan Mei setahun yang lalu. Inilah awal berdirinya Bank Sampah Graha Asri (BSGA). Bersama dengan 44 bank sampah sekabupaten Bekasi, beliau sedang mengupayakan adanya Koperasi Bank Sampah Sentral Kabupaten Bekasi.

Usahanya ini mendapat apresiasi dari salah satu anggota dewan dari Fraksi PKS ,Zainudhin. "Rasanya proyek bank sampah ini, kapan2 harus saya kunjungi ke lokasi,"  demikian ujar beliau.

Sampai saat ini cabang dari BSGA sudah ada 5 Pos, yang tersebar di  4 RW di wilayah Graha Asri, dan 1 Pos Kancil, Cikarang Baru yang semua masuk wilayah Cikarang Timur. Semua Pos diketuai oleh kader akhwat. Walaupun belum genap setahun, omset dari tabungan nasabah antara 1-1,5 juta perbulan. Dengan jumlah nasabah sekitar 100 orang.  Ini cerminan bahwa mulai membaiknya kesadaran masyarakat akan pengelolaan sampah.

Semua perjuangan tidak akan lepas dari ujian. Inilah proses pendewasaan, pemahaman, pengukuhan internal yang harus dilalui Bank Sampah Graha Asri.

Kerja sosial adalah dasar gerakan. Berkhidmat untuk rakyat adalah semangatnya. Beramal jama'i itu ukhuwahnya. 
Hingga ujian itupun datang.

Mulai dari pengepul yang tidak konsisten, nasabah yang kurang paham (menabung produk basah/kotor) sampai ada orang 'ngrusuhi' ,  melarang menaruh gerobak di dpn ruko dan berbagai alasan yang dibuat-buat.
Saat ini memang kendala BSGA adalah belum punya tempat untuk menampung produk nasabah. Untuk menampung produk dari nasabah menggunakan ruko tempat Emy berpraktek yaitu Klinik Isykarima Ruko Sentra Niaga. 

Semoga suatu saat BSGA punya satu Basecamp sebagai tempat pelayanan, pelatihan, produksi dan distribusi produk dari "sampah yang menjadi berkah".


Mulyani
Cikarang, 100316

UPO

UPO🍚

Upo dalam bahasa jawa artinya sebutir nasi, akan disebut sego jika bersatu dengan upo-upo lainnya
Tak ada yang istimewa dari upo, hanya gumpalan putih, lunak mungkin tanpa arti
Akan istimewa saat bersama kawannya disaji
Lebih spesial lagi saat ia ditemani lauk atau sayur bergizi

Sego  berasal dari gabah yang berpadu dengan air dan dipanaskan dalam proses menanak
Gabah yang keras juga harus melewati proses panjang dalam hidupnya

Setidaknya sebulan lebih ia ditempa, dimulai saat masih disawah, diserang hama, dipanen sampai dijemur.
Ada proses panjang dalam sego yang kita nikmati, banyak keringat disana, 
dari petani pembajak, ibu tani yang tanam, penjual pupuk, petani pemanen, petani penjemur, 
bapak2 penggiling gabah, penjual beras sampai kita yang memasaknya.
Selalu ada sebuah proses dalam mencapai sebuah pencapaian, tidak ada kesendirian dalam sebuah amal.


Namun, taukah kawan? 

Jika Upo ini kita sia-siakan, sama halnya kita menyiakan sebutir gabah.
Satu butir gabah jika kau rawat dengan sepenuh hati dan segenggam pupuk,
tiga bulan lamanya, dia mampu berkembang lagi 
Paling tidak bertambah menjadi satu tanaman padi, bahkan bisa bertambah menjadi 15 rumpun
Masing-masing mereka akan mengeluarkan malai

Apa malai itu?
Adalah sekumpulan gabah yang bersatu dalam satu tangkai
Muncul dari tiap tanaman dan minimal ada 120 butir gabah bertengger dimalai

Jadi,

Satu butir padi bisa bisa menghasilkan 1800 butir.
Kalo 1800 butir kita tanam kemudian tumbuh dan bernas semua, kita akan dapatkan lagi 3.240.000 butir lagi
Kalo ditimbang sekitar 3.240 gram, sekitar 3 kilo.


Sungguh Maha Luas KaruniaNya. Al Qur’an Al Baqarah : 261 menyebutkan ……….serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan bagi siapa yang Dia kehendaki.

Jangan sia-siakan nikmatNya,

Jika kita buang upo sama saja kita membuang dan membunuh harapan 3 kilo beras dimasa datang
Benarkah hanya satu butir saja yang terbuang??? Bagaimana jika semua orang melakukannya?
Berapa ton yang akan sia-sia.


Hargailah upo 

Bukankan ada saudara kita di Ethiopia dan Somalia dalam kondisi kelaparan

dipinggir sawah dramaga, 11 Maret 2016

Kutahan Kantukku Untuk Anak Istriku


Kutahan kantukku setiap pagi berangkat kerja menyusuri hitamnya jalan menuju ke tempat kerja yang paling besar kawasan industrinya di daerah Cikarang, Bekasi. 

Kantuk ini harus aku usir, karena ingat akan kebahagian memberi nafkah anak istri. Perjalanan sekitar 30 menit padahal, tidak terlalu jauh dari rumah yang ada disekitar Sentra Grosir Cikarang (SGC). 

"Allahuakbar, Allahuakbar, " teriaku sambil membuka kaca helm agar kantuk ini hilang . 

Terkadang jika sudah sangat kantuk sekali, aku haruslah berhenti sebentar dan mengerakan badan,  agar kembali segar. 

Sebagai seorang kepala keluarga, mencari nafkah yang halal adalah kewajibanku. Aku ingin memberi makan dan minum keluarga dengan yang halal.