Selasa, 08 Maret 2016

MENIPU DENGAN BAJU

Sebagai orang Jawa, aku masih ingat dengan slogan "ajining diri soko lati, ajining jiwo soko busono". Slogan itu berarti harga dirimu berasal dari lisan dan harga jiwa itu berasal dari pakaian.

Mudahnya, orang itu pinter atau enggak lihatlah caranya berbicara. Pilihan katanya, intonasinya dan kemampuannya menjelaskan permasalahannya. Lalu kalau mau tahu seberapa baik jiwa seseorang, maka lihatlah pakaiannya, pilihan warna dan coraknya, pilihan waktunya dan cara memakainya.

Aku meyakini slogan itu benar adanya dan aku juga terus mencoba praktekkan slogan itu. Sampai akhirnya aku mendapati kejadian-kejadian aneh karena baju. Tepatnya tipu menipu.

Seorang pria berpakaian rapi, perlente datang ke tukang kebun yang sedang membersihkan rumput. Di tanah tersebut terpasang papan bertuliskan 'dijual tanpa perantara'. Dengan penampilannya dia bilang mau membeli tanah tersebut.

Oh, ternyata tukang kebun itu adalah pemiliknya. Setelah tawar-menawar akhirnya pria perlente mengeluarkan uang tanda jadi Rp 1 juta, lalu dia minta izin pinjam motor baru pemilik kebun untuk ambil uang di ATM terdekat untuk menambah uang muka. Pemilik kebun diminta menyelesaikan bersih-rumput. Dia baru sadar tertipu ketika hari semakin petang sedangkan motornya tak kunjung datang.

Masih soal baju. Ada seorang gadis yang sangat gembira karena ada polisi ganteng yang datang melamarnya. Seminggu setelah pernikahan usai, suami ganteng izin berangkat kerja dengan pakaian dinaz polisi yang dikenakannya. Sang istri begitu bahagia sampai akhirnya datang kabar suaminya tertangkap polisi. Ternyata suaminya seorang penipu berpakaian polisi.

Lagi-lagi aku melihat ada orang yang sengaja menipu dengan baju. Perjaka itu berangkat dari rumahnya dengan dandanan seksi bak penyanyi India. Sambil jalan berlenggok, dia memainkan musik dan menyanyi sekedarnya. Anehnya, orang-orang itu rela membayar untuk sebuah penipuan.

Seharusnya bencong-bencong itu ditangkap karena telah menipu. Para wanita harusnya marah karena bajunya dipake untuk menipu. Sama dengan marahnya institusi polisi yang baju kesatuannya dipake untuk menipu oleh 'polisi gadungan'.

Sungguh telah banyak orang menipu dengan baju. Bajunya telah menipu. Aku menjadi ragu, apakah slogan Jawa itu masih berlaku di jaman ini. Aku tak mau tertipu karena baju.
(BP)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar