Jumat, 11 Maret 2016

Sampah yang Bernilai Ekonomis

Melayani ibu hamil dan membantu persalinan adalah hal lazim yang ditangani seorang dokter kandungan. Namun ada yang unik pada Emy Tri Dianasari . Beliau dokter spesialis  kandungan yang tak malu-malu berkecimpung di dunia sampah.

"Saya sedang berusaha untuk mengedukasi ibu- ibu rumah tangga memilah sampah agar bisa bernilai ekonomis" ujar dokter dengan 2 orang putra dan 2 orang putri ini.

Sampah organik, ketika sdh masuk tanah, maka selesai. Dia akan terurai dengan sendirinya. Sampah non organik membutuhkan proses agar dpt terurai bahkan  ada yang jutaan tahun.Jika seorang ibu rumah tangga bisa memilah sampah, dan memanfaatkannya, maka urusan sampah bisa selesai di tataran rumah tangga. Demikian lanjut dokter yang membuka prakteknya di Perum Graha Asri ketika memberi sambutan pada acara pembentukan relawan Bank Sampah bulan Mei setahun yang lalu. Inilah awal berdirinya Bank Sampah Graha Asri (BSGA). Bersama dengan 44 bank sampah sekabupaten Bekasi, beliau sedang mengupayakan adanya Koperasi Bank Sampah Sentral Kabupaten Bekasi.

Usahanya ini mendapat apresiasi dari salah satu anggota dewan dari Fraksi PKS ,Zainudhin. "Rasanya proyek bank sampah ini, kapan2 harus saya kunjungi ke lokasi,"  demikian ujar beliau.

Sampai saat ini cabang dari BSGA sudah ada 5 Pos, yang tersebar di  4 RW di wilayah Graha Asri, dan 1 Pos Kancil, Cikarang Baru yang semua masuk wilayah Cikarang Timur. Semua Pos diketuai oleh kader akhwat. Walaupun belum genap setahun, omset dari tabungan nasabah antara 1-1,5 juta perbulan. Dengan jumlah nasabah sekitar 100 orang.  Ini cerminan bahwa mulai membaiknya kesadaran masyarakat akan pengelolaan sampah.

Semua perjuangan tidak akan lepas dari ujian. Inilah proses pendewasaan, pemahaman, pengukuhan internal yang harus dilalui Bank Sampah Graha Asri.

Kerja sosial adalah dasar gerakan. Berkhidmat untuk rakyat adalah semangatnya. Beramal jama'i itu ukhuwahnya. 
Hingga ujian itupun datang.

Mulai dari pengepul yang tidak konsisten, nasabah yang kurang paham (menabung produk basah/kotor) sampai ada orang 'ngrusuhi' ,  melarang menaruh gerobak di dpn ruko dan berbagai alasan yang dibuat-buat.
Saat ini memang kendala BSGA adalah belum punya tempat untuk menampung produk nasabah. Untuk menampung produk dari nasabah menggunakan ruko tempat Emy berpraktek yaitu Klinik Isykarima Ruko Sentra Niaga. 

Semoga suatu saat BSGA punya satu Basecamp sebagai tempat pelayanan, pelatihan, produksi dan distribusi produk dari "sampah yang menjadi berkah".


Mulyani
Cikarang, 100316

Tidak ada komentar:

Posting Komentar