Hatiku Merayu Rindu
Namanya mirip dengan pahlawan emansipasi wanita dari Jepara. Meski hidup berbeda zaman, tapi keduanya memiliki kesamaan. Sama-sama lahir di Jawa Tengah.
Menamatkan pendidikan hingga Sekolah Menengah Ekonomi Atas di Klaten lalu pergi merantau mengadu nasib di Bekasi. Menjadi buruh di kawasan EJIP dia jalani lebih dari lima tahun.
#Cantik...
Jika cantik maksimal adalah 10, maka saya memberikan nilai 8,5 untuk kecantikannya. Memang tidak terlalu putih, tidak terlalu kurus, tidak terlalu tinggi. Tapi kemampuan pada pemilihan dan padu padan menjadikannya lebih berkesan.
Sekali melihatnya (walau dia tertunduk), aku langsung jatuh... Sungguh pribadi unik yang menarik.
#Idealis...
Dia pribadi yang idealis. Sudah bekerja di sebuah perusahaan Jepang yang gajinya cukup untuk biaya hidup, malah keluar dan memilih jadi guru TKIT dengan gaji yang (rahasia). Alasannya simpel. Untuk menjadi pribadi yang lebih baik dan beramal lebih baik.
Benar saja, dengan uang seadanya itu di melanjutkan kuliah. Baginya itu lebih menentramkan.
#Lincah...
Kata lincah aku pilih sebagai gambaran mobilitasnya yang buanyak. Sudah sibuk jadi guru di sekolah, masih mengisi TPA di rumah ditambah membina kelompok pengajian karyawati. Sabtu minggu hampir penuh dengan kegiatan.
#Penyayang dan supel...
Sempat mengasuh keponakan yang ditinggal merantau oleh orang tuanya, dari disapih hingga lulus SMP. Anak-anak muridnya pecah tangisnya kala dia pamit mau mengundurkan diri dari guru. Temannya banyak, baik teman kerja, teman guru ataupun teman pengajian.
#Sholehah...
Dia sudah memakai jilbab sejak usia SMP. Padahal waktu itu hanya dia seorang diri di sekolahnya. Kuat dalam memegang prinsip, terutama menyangkut agama. Semangat keibuannya sangat nampak saat merawat anak muridnya. Anaknya nampak Soleh dan Cerdas. (kayak motto sekolah islam).
...........................
Tapi, Sayang sungguh disayang. Wanita cantik, idealis, penyayang dan sholehah itu telah menikah.
Sungguh beruntung laki-laki yang mendapatkan cintanya. Dan laki-laki yang beruntung itu adalah Aku, Budi Purwanto.